Home » Informasi » Berita

Berita


Pola Makan yang Benar Turunkan Angka Kematian Bayi dan Balita

21 Februari 2012 00:00:00 0Penulis : Admin

INILAH.COM,Jakarta - Berdasarkan penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) pemberian makanan yang tepat akan mengurangi jumlah angka kematian bayi dan balita.

Banyak hal yang menyebabkan tingginya angka kematian bayi di dunia terlebih Indonesia, salah satunya adalah gizi buruk. Sebanyak 53% penyebab kematian anak di bawah lima tahun adalah karena gizi buruk atau kurang, dua pertiga di antaranya terkait dengan pemberian makanan kurang tepat.

'Pola pemberian makanan yang terkesan mudah dan seringkali dianggap sepele oleh beberapa kaum ibu, ternyata memberikan dampak yang luar biasa terhadap tingginya angka kematian bayi dan balita," kata Dr. dr Damayanti R Sjarif, Sp.A(K) pada acara seminar dan pelatihan Infant Feeding Practise yang diadakan PT Indofood yang bekerja sama dengan PKK DKI Jakarta, di Gedung PKK Kebagusan Jakarta Selatan, Senin (20/2).

Damayanti menjelaskan, dua pertiga dari 10,9 juta anak di dunia mengalami cara pemberian makan yang salah sehingga mengakibatkan berbagai efek samping yang tidak diharapkan saat si anak besar kelak.

"Cara pemberian makanan yang salah disebabkan antara lain oleh pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang kurang optimal," jelas Damayanti.

Menurut Damayanti, praktek pemberian makanan bayi yang berkontribusi terhadap kematian balita ada beberapa hal, pertama, pemberian ASI eksklusif kurang dari empat bulan.

"Kurang dari 35 persen anak di dunia yang bisa mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama,"tegas Damayanti.

Kedua, kualitas dan kuantitas makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang buruk, praktik pemberian makanan padat yang salah, bisa terlalu dini atau terlambat, juga ada kemungkinan makanan tercemar.

“Padahal pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) atau makanan padat tepat waktu pada bayi sangat berpengaruh pada perkembangan otak dan pertumbuhannya secara keseluruhan.”

Damayanti menambahkan, usia 6-9 bulan adalah waktu terbaik untuk mengajarkan anak makanan padat.

“MP-ASI paling lambat diberikan di usia 6 bulan, karena pada usia tersebut ASI sudah tidak mencukupi lagi untuk mikronutrien seperti zat besi, zinc, fosfat, magnesium dan natrium, sehingga harus ditunjang dengan MP-ASI. Jadi jangan ditunda lagi. Untuk sejumlah bayi MP-ASI bisa diberikan lebih dini, misal empat bulan tergantung kondisinya,” papar Konsultan Nutrisi Departemen Ilmu Penyakit Anak FKUI/RSCM.

Setelah usia 6 bulan terjadi kesenjangan pada bayi atau kekurangan energi untuk mendukung aktivitas bayi yang semakin aktif, sedangkan pada waktu yang bersamaan produksi ASI semakin berkurang.

“Di sinilah adanya fase kritis pertama pengenalan makanan padat, yang ditambahkan selain ASI untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang tidak bisa dipenuhi hanya oleh ASI atau PASI (pengganti ASI atau susu formula bayi),” ujar Damayanti.

Damayanti menyarankan semakin terlambat pengenalan MP-ASI akan semakin besar pula kesenjangan kebutuhan energi yang terjadi. Namun dia mengingatkan pemberian MP-ASI tidak boleh terlalu dini karena saluran cerna bayi belum siap.

Untuk usia 4 bulan misalnya, saluran cerna bayi bisa mencerna karbohidrat, namun untuk protein baru bisa diserap sempurna di usia 6 bulan.

“Untuk merangsang produksi ASI sejak dini, lakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera setelah bayi lahir. Saat menyusui, payudara yang tidak disusu bayi dipompa, ASInya bisa disimpan sebagai cadangan. Dengan cara ini otak akan memerintahkan hormon memproduksi ASI lebih banyak,” imbuh Damayanti.

“Anak akan gagal tumbuh, menjadi pendek, kekurangan zat besi serta gangguan tumbuh kembang,” ujarnya.

Pada usia 6-9 bulan bayi punya fase makan makanan keras yang bertekstur. Dr Yanti mengingatkan, terlambat memberikan makanan tambahan juga menyebabkan anak sulit makan kelak. [mor]
 

Dibaca : 4157 kali | Sumber : Inilah. com | File :


Form Komentar Berita


Berita Lainnya
 1 2 3 >  Last ›